Jumat, 26 Oktober 2012

Ayo kita mengenal sosok tokoh puisi terkenal indonesia, seperti Chairil Anwar

Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatra Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul aku), adalah penyair terkemuka Indonesi. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. BersamaAsrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B Jassin sebagai pelopor Angktan'45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisipertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

karya-karya tulis yang di terbitkan oleh Chairul Anwar antara lain adalah sebagai berikut:


·        Deru Campur Debu (1949)
·        Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
·        Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
·        "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949
·        Derai-derai Cemara (1998)
·         Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
·         Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Minggu, 23 September 2012

Ibu

Telah kau luangkan begitu banyak waktu..
Hanya tuk menjagaku..
Telah kau hempaskan kepentingan mu..
Hanya tuk mengurusku..
Terima kasih ibu.

Sabtu, 22 September 2012

Merdeka

Kami ingin mempunya negri yang merdeka
Bertahun-tahun kami berjuang
Walau kami sudah tiada
Kami bangga karena negri kami telah merdeka
Tetasan dari kami untukmu pertiwi

PERJUANGAN

Kami berjuang mengusir penjajah
Walau kelaparan meendera
Bersenjatakan bambu runcing
Meriam musuh berdentum
Bom-bom berhamburan di udara
Tiada surutkan semangat kami
Tuk meraih kemerdekaan

KEDAMAIAN

Angin pagi menghampiriku
Tertatih-tatih
Berbisik di telinga kiri
Lembut,sejuk
Bulu halus di pelipis
Tersibak rasa hampa

Karena Kasih-Mu

Karena kasih-mu
Engkau tentukan waktu
Sehari lima kali bertemu
Aku ingin rupa-Mu
Kulebihi sekali
Sebelum cuaca menali sutera

KUPU-KUPU

Alangkah elok rupamu
Terbang kian kemari
Di antara bunga-bunga
Kadang kulihat engkau tertegun
Di tangkai dan daun-daun
Atau berkejaran bersama kawanmu